Breaking
Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.
Kisah Hidupku 5 min read Juli 05, 2025

Mendikdasmen Soroti 5 Masalah Serius Literasi Indonesia, dari Adab Berbahasa hingga Kedaulatan Bahasa

admrozi
admrozi Author

Kemampuan literasi masyarakat Indonesia kembali menjadi sorotan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menilai literasi bukan sekadar bisa membaca, tetapi memahami, menyampaikan, dan menggunakan bahasa dengan baik dan benar.

Dalam acara "Pak Menteri Menyapa: Guru Bahasa Indonesia" di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2025), Mu’ti membeberkan lima persoalan utama literasi di Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Pertama, kemampuan membaca fungsional atau functional reading masih sangat rendah.
“Problem kita itu bukan tidak bisa membaca aksara, tapi tidak memahami aksara. Inilah masalah yang harus segera dibenahi,” ujar Mu’ti.

Kedua, bahasa belum digunakan secara maksimal sebagai alat komunikasi. Banyak individu belum mampu menyampaikan gagasan secara efektif dan terstruktur.
“Ini menyangkut hubungan antara bahasa dengan kemampuan berpikir, membaca, dan menyusun argumen yang logis dan runtut,” jelasnya.

Ketiga, lemahnya logika dalam mengajarkan dan menulis dalam bahasa Indonesia. Ia mencontohkan banyak karya ilmiah mahasiswa yang tidak jelas arah pikirannya.
“Kalau baca skripsi, kadang muter-muter, tidak tahu arahnya ke mana. Ini soal berpikir runtut,” ungkapnya.

Keempat, masalah adab dalam berbahasa. Menurut Mu’ti, bahasa kini digunakan secara kasar dan jauh dari etika.
“Kata-kata kasar, jorok, bahkan kotor kini seolah menjadi hal biasa. Ini masalah keadaban yang sangat serius,” tegasnya.

Kelima, melemahnya kedaulatan bahasa Indonesia di ruang publik. Ia menyoroti penggunaan bahasa asing seperti exit atau assembly point di gedung-gedung pemerintahan.
“Seharusnya kita bisa menggunakan padanan bahasa Indonesia. Ini penting sebagai bentuk kedaulatan bahasa nasional,” ujar Mu’ti.

Meski begitu, Mu’ti menegaskan bahwa mendorong kedaulatan bahasa Indonesia tidak berarti menolak bahasa asing. Ia menyebut pentingnya mengedepankan trigatra bahasa:
“Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.”

Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas literasi nasional dan memperkuat identitas kebahasaan bangsa Indonesia di tengah tantangan global.